Langsung ke konten utama

Hakikat Ziarah Kubur Semakin Terkubur?

Mengunjungi makam para wali, bersemedi (tirakat) di kompleks pekuburan, meminta wangsit (petunjuk) kepada kuburan, mengagungkan, menyembah, atau meminta berkah kepada kuburan, bukan hal aneh lagi di Indonesia.

Sebuah majelis taklim atau perkumpulan pengajian pun, baik yang ibu-ibunya maupun yang bapak-bapaknya, serasa belum lengkap bila belum mengadakan 'wisata ziarah' ke beberapa kompleks makam ternama di Indonesia.

Setali tiga uang, media cetak dan elektronik turut memopulerkan hal ini melalui rubrik-rubrik atau program tayangannya. Salah satu contoh konkrit liputan tempat-tempat keramat beserta kepopulerannya, yang salah satunya adalah kompleks kuburan.

Hakikat Ziarah Kubur

Sejatinya, tujuan ziarah kubur tiada lain mengingatkan manusia terhadap kematian yang selalu menunggu setiap makhluk hidup di dunia. Manfaat lainnya yaitu mendoakan ahli kubur agar mendapat ampunan dari Allah subhanahu wataala.

Anehnya, tidak sedikit manusia di zaman ini ketika berziarah ke kuburan bukannya mengingat kematian sehingga terpacu untuk segera mencari bekal, atau mendoakan ahli kubur agar mendapat ampunan, justeru meminta berkah atau mencari wangsit dari kuburan tersebut.

Syaikh Shalih Fauzan dalam kitabnya Syarh Masaailil Jaahiliyah menyebutkan, pada masa jahiliah, umat manusia beribadah kepada Allah tetapi juga menyembah kepada selain Allah, di antaranya adalah kuburan. Seperti terjadi pada kaum Nuh, mereka mengkultuskan orang-orang saleh seperti Wudd, Suwaa', Yaghuts, Yauq, dan Nasr. Akhirnya mereka menyembah kuburan orang-orang saleh tersebut selain menyembah kepada Allah azza wajalla.

Mereka, kaum Nuh yang menyembah kuburan orang saleh itu berkilah, mereka hanya bertujuan mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Mereka tidak merasa itu sebagai perbuatan syirik. Mereka mengaku hanya mengambil perantaraan dan meminta syafaat dari orang-orang saleh tersebut.

Ketahuilah, yang dijadikan ukuran bukan pengakuan mereka, tapi hakikatnya! Hakikat perbuatan mereka adalah syirik, meskipun mereka menyebutnya sebagai 'pengambilan syafaat' atau 'pendekatan diri' kepada Allah. Sebutan tidaklah dapat mengubah hakikat.

Allah Subhanahu wataala berfirman,“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabnya.” (Al Kahfi: 110)

Ibadah semata-mata hak Allah azza wajalla. Tidak ada sesuatupun yang boleh diibadahi selain Allah, siapapun adanya. Ibadah menjadi tidak bermanfaat tatkala tidak disertai pemurnian ketaatan atau keikhlasan hanya kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah (ittiba'urrasul).

Karena berziarah kuburan masuk dalam ranah ibadah, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan ziarah kubur mulai dari tata cara berziarah, adab-adabnya, serta apa saja yang boleh dan dilarang selama berziarah, harus mengikuti contoh Rasulullah shalalahu alaihi wasalam dan para Sahabatnya.

Adan dan Tata Cara Ziarah Kuburan

Lalu, bagaimana adab dan tata cara berziarah kuburan yang sesuai tuntunan Rasulullah dan para Sahabat? Berikut beberapa di antaranya:
 Kaum wanita dimakruhkan untuk berziarah kubur karena secara alamiah perempuan mudah menangis dan meratap, sementara meratapi kuburan adalah hal yang dilarang. Kaum wanita dibolehkan berziarah kubur dengan syarat tidak meratapi ahli kubur.
 Mengikhlaskan niat ziarah kubur hanya karena Allah azza wajalla, melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah, tanpa disusupi niat lain seperti mencari berkah, wangsit, atau yang semisalnya dari kuburan.
 Ziarah kuburan tidak boleh dikhususkan kepada makam orang per orang atau kompleks kuburan tertentu. Ziarah sifatnya umum, terhadap kuburan kaum muslimin.
 Waktu berziarah kubur pun tidak boleh dikhususkan hanya waktu tertentu seperti menjelang Ramadhan atau menjelang perayaan Idul Fitr.
 Membaca do'a masuk kompleks pekuburan dengan do'a yang dicontohkan Rasulullah yaitu,”Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada kalian wahai para penghuni kubur dari kalangan mu'min dan muslim. Insyaallah kami akan bersua dengan kalian. Kami mohon afiat kepada Allah bagi kami dan kalian”. (Riwayat Muslim)
 Disunnahkan melepas sandal atau sepatu (alas kaki) saat masuk kompleks kuburan.
 Dianjurkan untuk mengingat-ingat kematian karena salah satu tujuan utama ziarah kuburan adalah agar manusia ingat kematian sehingga segera mempersiapkan bekalnya.
 Tidak berdo'a, meminta pertolongan, menyembelih hewan, atau jenis ibadah khusus lainnya di sisi kuburan dengan keyakinan ahli kubur menjadi perantara (wasilah).
 Meninggalkan semua perbuatan yang khusus hanya untuk Allah azza wajalla di sisi kubur, kecuali sholat jenazah bagi yang terlambat.
 Tidak berdiri atau duduk di atas kuburan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahta atau Takhta?

Harta, tahta, dan wanita. Tiga kata ini sering kita dengar atau kita baca terkait dengan tiga jenis godaan bagi manusia di dunia. Namun sekarang kita tidak akan membahas esensi materi tiga kata tersebut. Fokus kita tertuju kepada bentuk kata tahta. Apakah penggunaan kata tahta sudah benar? Apakah ada bentuk kata lain yang digunakan masyarakat pengguna bahasa? Kata tahta ternyata bersaing dengan kata takhta . Hasil pengecekan penulis dalam mesin pencari kata daring, ditemukan kata tahta dan takhta. Berikut kutipannya. (1) Upacara Naik Tahta Kaisar Naruhito Dilaksanakan Pagi Ini (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190501080200-113-391032/upacara-naik-tahta-kaisar-naruhito-dilaksanakan-pagi-ini) (2) Kilas Balik Pergantian Tahta pada Masa Kerajaan di Indonesia (https://www.kompasiana.com/tomidwikinugraha7577/5c619ab6677ffb39292d44e3/kilas-balik-pergantian-tahta-pada-masa-kerajaan-di-indonesia) (3) Takhta (https://id.wikipedia.org/wiki/Takhta) Lalu bentuk kata mana yang dibakuka...

Agar Supaya

Dalam kegiatan berbahasa, terutama bahasa lisan, penggunaan kata agar supaya kerap kita dengar. Perhatikan contoh berikut. (1) “ Agar supaya giat belajar, siswa harus terus dimotivasi,” ujar salah satu peserta rapat. (2) Penanggulangan banjir harus segera dilaksanakan agar supaya kerugian bisa terkurangi. Apakah pengggunaan kata agar supaya di atas sudah memenuhi kaidah kalimat efektif dan sesuai dengan ragam bahasa Indonesia baku? Ikuti penjelasan berikut untuk menemukan jawabannya! Salah satu ciri kalimat efektif adalah adanya kehematan penggunaan kata, frasa, atau bentuk lain. Arifin dan Tasai (2006) menjelaskan, penghematan di sini dimaksudkan tidak menggunakan kata yang memang tidak diperlukan. Caranya adalah menghindari menggunakan kata yang bersinonim dalam satu kalimat. Di satu sisi, kata agar dan supaya dalam KBBI V sama-sama digolongkan ke dalam jenis kata penghubung. Makna kedua kata tersebut adalah kata penghubung untuk menandai harapan. Dengan kata lain dapat kita t...

Santri Yatim Membully Sederajat?

Reporter : Maulana Fajar A.S PTS adalah kepanjangan dari penilaian tengah semester dan PTS adalah waktu pembully-an itu terjadi tepatnya pada tanggal 23/09/2024 dan kelas menjadi tempat kejadian perkaranya. Semua ini berawal dari santri yatim yang mempunyai rasa dendam terhadap teman sendiri yang sama-sama yatim.aksi dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi berupa pencoretan nama baik sikorban,pelaku yang merasa puas pun merasa tidak bersalah sama sekali.dan tidak merasa akan ketahuan,pada kenyataan nya salah. Aksi yang dilakukan pelaku ketahuan,tepatnya oleh pengawas ruangan ujian.merasa ada yang jangkal dibagian pengabsenan,sang pengawas ruangan pun melihat terdapat sebuah nama yang dicoret besar.sang pengawas pun menarik napas panjang-panjang dan berkata “siapa yang melakukan ini?!,mencoret-coret nama orang lain?” Bersambung...