Langsung ke konten utama

Sudah Cerdaskah Anda?


Penelitian dan perdebatan seputar intelligence quotient, kecerdasan, dan kreativitas sudah lama terjadi. Layaknya teori-teori di bidang lain yang terus mengalami perubahan, teori tentang kecerdasan manusia berubah pula. Berawal dari teori intelligence quotient, multiple intelligences, emotional quotient, hingga spiritual quotient.

Islam sebagai agama yang sempurna, yang mengatur berbagai sisi kehidupan, tentu tidak ketinggalan dalam membahas kecerdasan manusia. Islam memiliki sudut pandang tersendiri dalam menilai kecerdasan. Kecerdasan manusia tidak sekadar dilihat dari sisi kecerdasan intelektual atau rasional yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun masalah strategis.

Berikut adalah lima ciri manusia cerdas yang mudah-mudahan bisa menjadi tambahan referensi kita dalam memahami makna kecerdasan dan sedikit membantu kita dalam menilai diri sendiri apakah sudah termasuk ke dalam manusia yang memiliki ciri-ciri kecerdasan tersebut atau belum.

Pertama, mengetahui dan memahami tujuan hidup
Seorang yang cerdas pasti mengetahui dan memahami untuk apa Allah menciptakan dirinya di dunia ini. Tujuan Sang Pencipta menciptakan makhluk di dunia adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya, tidak beribadah kepada selain-Nya. Inilah yang dimaksud para ulama dengan istilah tauhîd ulûhiyyah.

Seseorang yang telah meyakini dan beribadah hanya kepada Allah, pasti meyakini keesaan Allah dalam segala perbuatan-Nya. Allah satu-satunya Pencipta seluruh alam, Dia Yang menguasai dan mengaturnya sesuai kehendak-Nya. Keyakinan ini disebut tauhîd rubûbiyyah. Di samping itu, ia pun meyakini bahwa Allah memiliki Nama dan Sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya. Keyakinan ini disebut tauhîd asmâ wa shifât.

Memahami tujuan hidup membuat seseorang memiliki kepastian dalam mengarungi kehidupan, membuat segala aktivitas hidupnya mengarah kepada satu tujuan yang pasti. Dia akan mendapatkan kedamaian, kebahagian dan ketentraman. Tidak takut dan gentar menghadapi masa depan, tegar dan mantap menghadapi segala macam rintangan dan cobaan.

Kedua, memiliki visi jauh ke depan
Seorang yang cerdas memiliki visi hidup yang jauh menembus sekat-sekat dan melampaui batas-batas dunia. Segala aktivitas hidupnya diorientasikan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di akhirat, di samping kebahagiaan dunia yang juga harus diraihnya.

Sementara Rasulullah membuat perumpamaan perbandingan dunia dengan akhirat sebagai berikut,
" ما الدنيا في الآخرة الا كمثل ما يجعل أحدكم إصبعه هذه في اليم فلينظر بما يرجع"
"Tidaklah seberapa apa yang ada di dunia dari apa yang ada di akhirat, kecuali
seumpama orang yang memasukkan jarinya ini ke dalam laut, lihatlah apa yang
dibawanya?"

Namun, mementingkan kehidupan akhirat tidak berarti melupakan kehidupan dunia.
Karena dunia adalah batu loncatan menuju kehidupan akhirat. Allah pun mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya doa untuk meminta kebaikan hidup di dunia dan akhirat, tidak dunia saja, tidak pula akhirat saja, yaitu doa yang terkenal dan suka dibaca oleh banyak kaum muslimin.

Allah memuji orang-orang yang giat berusaha, baik melalui perdagangan maupun yang lainnya, ketika usahanya itu tidak melalaikan mereka dari tujuan hidup dan keimanan kepada hari akhir.

Ketiga, mengetahui buruknya dosa dan akibat yang ditimbulkannya
Seseorang yang cerdas mengetahui buruknya dosa sehingga ia berusaha untuk tidak terjerumus ke dalamnya. Dosa adalah sumber malapetaka dan bencana, baik yang menimpa diri pelakunya maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. Bahkan semua makhluk yang ada di dunia pun bisa terkena imbasnya.

Keempat, mampu memilah dan memilih yang halal dari yang haram
Seorang yang cerdas memiliki kemampuan untuk memilah yang halal dan yang haram. Kemudian ia mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram, sebagai wujud rasa syukurnya kepada Allah yang telah menganugerahkan berbagai kenikmatan yang tidak terhitung banyaknya. Ia melakukannya sebagai tanda iman kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Seseorang yang cerdas akan selalu berhati-hati memilih apa yang akan dimakan atau digunakannya. Karena makanan yang haram adalah sumber malapetaka dan akar kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Kelima, mengetahui dan waspada terhadap tipu daya dan perangkap iblis
Seorang yang cerdas mengetahui dan berhati-hati terhadap tipu daya dan perangkap
Iblis .Allah telah memperingatkan kepada seluruh manusia bahwa iblis adalah musuh yang sangat berbahaya. Dalam menggoda manusia, iblis mempunyai dua tujuan, tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjangnya adalah menjauhkan manusia dari surga dan menjerumuskan mereka ke dalam neraka.

Adapun tujuan jangka pendek iblis adalah, pertama, menjerumuskan manusia ke dalam kemusyrikan dan kekufuran, kedua, menjerumuskan manusia ke dalam bidah, ketiga, menjerumuskan manusia ke jurang maksiat, dan keempat, menghalang-halangi manusia dari taat kepada Allah. Untuk itu, tidak ada satu pun jalan menuju ketaatan kepada Allah yang tidak dihalanginya.

Nah, itulah cIri-ciri manusia cerdas. Bagaimana dengan kita. Sudahkah memiliki lima ciri orang cerdas seperti di atas? Tidak ada kata terlambat. Yuk, kita menjadi orang cerdas dengan mengaplikasikan lima ciri kecerdasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahta atau Takhta?

Harta, tahta, dan wanita. Tiga kata ini sering kita dengar atau kita baca terkait dengan tiga jenis godaan bagi manusia di dunia. Namun sekarang kita tidak akan membahas esensi materi tiga kata tersebut. Fokus kita tertuju kepada bentuk kata tahta. Apakah penggunaan kata tahta sudah benar? Apakah ada bentuk kata lain yang digunakan masyarakat pengguna bahasa? Kata tahta ternyata bersaing dengan kata takhta . Hasil pengecekan penulis dalam mesin pencari kata daring, ditemukan kata tahta dan takhta. Berikut kutipannya. (1) Upacara Naik Tahta Kaisar Naruhito Dilaksanakan Pagi Ini (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190501080200-113-391032/upacara-naik-tahta-kaisar-naruhito-dilaksanakan-pagi-ini) (2) Kilas Balik Pergantian Tahta pada Masa Kerajaan di Indonesia (https://www.kompasiana.com/tomidwikinugraha7577/5c619ab6677ffb39292d44e3/kilas-balik-pergantian-tahta-pada-masa-kerajaan-di-indonesia) (3) Takhta (https://id.wikipedia.org/wiki/Takhta) Lalu bentuk kata mana yang dibakuka...

Agar Supaya

Dalam kegiatan berbahasa, terutama bahasa lisan, penggunaan kata agar supaya kerap kita dengar. Perhatikan contoh berikut. (1) “ Agar supaya giat belajar, siswa harus terus dimotivasi,” ujar salah satu peserta rapat. (2) Penanggulangan banjir harus segera dilaksanakan agar supaya kerugian bisa terkurangi. Apakah pengggunaan kata agar supaya di atas sudah memenuhi kaidah kalimat efektif dan sesuai dengan ragam bahasa Indonesia baku? Ikuti penjelasan berikut untuk menemukan jawabannya! Salah satu ciri kalimat efektif adalah adanya kehematan penggunaan kata, frasa, atau bentuk lain. Arifin dan Tasai (2006) menjelaskan, penghematan di sini dimaksudkan tidak menggunakan kata yang memang tidak diperlukan. Caranya adalah menghindari menggunakan kata yang bersinonim dalam satu kalimat. Di satu sisi, kata agar dan supaya dalam KBBI V sama-sama digolongkan ke dalam jenis kata penghubung. Makna kedua kata tersebut adalah kata penghubung untuk menandai harapan. Dengan kata lain dapat kita t...

Santri Yatim Membully Sederajat?

Reporter : Maulana Fajar A.S PTS adalah kepanjangan dari penilaian tengah semester dan PTS adalah waktu pembully-an itu terjadi tepatnya pada tanggal 23/09/2024 dan kelas menjadi tempat kejadian perkaranya. Semua ini berawal dari santri yatim yang mempunyai rasa dendam terhadap teman sendiri yang sama-sama yatim.aksi dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi berupa pencoretan nama baik sikorban,pelaku yang merasa puas pun merasa tidak bersalah sama sekali.dan tidak merasa akan ketahuan,pada kenyataan nya salah. Aksi yang dilakukan pelaku ketahuan,tepatnya oleh pengawas ruangan ujian.merasa ada yang jangkal dibagian pengabsenan,sang pengawas ruangan pun melihat terdapat sebuah nama yang dicoret besar.sang pengawas pun menarik napas panjang-panjang dan berkata “siapa yang melakukan ini?!,mencoret-coret nama orang lain?” Bersambung...