Langsung ke konten utama

Tamu Tak Diundang


Awalnya ia hanya sebuah kotak yang tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ratusan program siaran dibenamkan, kotak tersebut menjelma sebuah kotak ajaib berdaya sihir kuat di tengah-tengah kita. Benar, kotak ajaib tersebut adalah pesawat televisi yang mungkin saat ini terdapat pula di rumah atau di kamar-kamar Anda.
Model dan jenis benda yang mampu membius pemirsanya ini sangat banyak. Ukurannya mulai dari super gede seperti home theatre hingga supermini yang hanya beberapa inchi. Modelnya dari yang sederhana hingga mutakhir, dari yang hitam putih dan layar biasa hingga berwarna dan layar datar.
Ada banyak alasan kenapa orang merasa perlu menonton televisi. Agar bisa mengikuti info terkini, melek politik, atau melek budaya merupakan beberapa contohnya. Ada banyak alasan juga kenapa orang merasa tidak perlu menonton televise, bahkan menjauhinya. Mayoritas program yang disuguhkan bersifat tidak mendidik merupakan alasan utama bagi kelompok yang menjauhi televisi.
Teman saya, sesama guru mengatakan, dia sengaja tidak menghadirkan televisi di rumahnya karena benda tersebut banyak menyedot waktu anak untuk menongkronginya. "Anak jadi malas belajar, interaksi sosial dengan lingkungan sekitar juga jadi kurang, makanya saya memilih tidak ada televisi di rumah," begitu komentarnya.
"Kalau saya, menekankan pembatasan waktu menonton televisi. Televisi memiliki dampak yang sangat luar biasa dalam menanamkan nilai-nilai yang tak selalu positif bagi anak. Sebagai gantinya saya menyediakan VCD yang mengandung nilai pendidikan, '' demikian komentar yang lainnya.
Tetangga sebelah saya lebih unik lagi. Dia membolehkan anaknya melihat televisi pada jam-jam tertentu dengan syarat hafalan Al Qur'annya juga meningkat. Keinginan anaknya melihat televisi dimanfaatkan untuk meningkatkan hafalan Al Qur'an.
Ada yang lebih tegas. ”Televisi memang sialan! Anggota keluarga seperti dilem pantatnya dan terhipnotis oleh kegenitan suara dan warna cahaya televisi. Kita jadi tidak komunikatif lagi dan yang paling buruk kita telah dijajah oleh televisi. Kita jadi budaknya, melayaninya, menungguinya, dan menomorsatukannya!”
Apapun argumen dan sikap yang diambil terhadap televisi, kita harus siap menerima berbagai konsekuensi dari melihat tayangan televisi. Ketika kita mengambil sikap menerima kehadiran televisi maka kita harus siap kedatangan tamu tak diundang di rumah kita sendiri.
Ya, benar, tamu tak diundang. Bagaimana tidak, tanpa diundang, tanpa permisi, dan tanpa dapat dicegah, berbagai program masuk ke rumah kita dengan leluasa. Dalam acara yang dirancang untuk anak-anak pun, berbagai tayangan iklan yang berseliweran banyak memberikan contoh atau penggambaran yang kadang-kadang - - dan seringnya-- jauh dari nilai agama.
Di negara-negara Eropa sendiri, di mana televisi menjadi ikon dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan, sebagian di antara mereka banyak yang kontra terhadap berbagai tayangan dan perkembangan industri televisi selama ini.
“Televisi telah mereduksi bahkan menghilangkan masa anak-anak. Telah terjadi pendewasaan dini karena berbagai tayangan yang disodorkan televisi. Masa anak-anak mereka hilang karena telah menjadi dewasa sebelum waktunya,” demikian salah satu hasil riset tentang pengaruh televisi terhadap perkembangan anak di luar negeri.
Jadi, bagi Anda yang belum mempunyai televisi di rumah - - dengan berbagai alasan masing-masing - - harus berpikir ulang bila tiba-tiba berkeinginan menghadirkan kotak ajaib tersebut di rumah Anda. Jangan sampai tamu tak diundang mengacak-ngacak keluarga Anda.
Bagi yang sudah punya televisi, jangan segan-segan untuk mempertimbangkan kembali, apakah barang tersebut masih layak dipertahankan. Bukankah dia telah menjadi perantara masuknya puluhan bahkan ratusan tamu tak diundang ke rumah Anda setiap harinya?
Saya pun tak pernah lelah bermimpi, suatu saat nanti, ketika siaran televisi telah benar-benar dipenuhi program yang ‘berisi’ tanpa direcoki tayangan tidak islami, saya akan menghadirkan televisi yang terbesar ukurannya dan tercanggih teknologinya pada saat itu. Allahu Alam. (Abu Ubaidah Tata Tambi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahta atau Takhta?

Harta, tahta, dan wanita. Tiga kata ini sering kita dengar atau kita baca terkait dengan tiga jenis godaan bagi manusia di dunia. Namun sekarang kita tidak akan membahas esensi materi tiga kata tersebut. Fokus kita tertuju kepada bentuk kata tahta. Apakah penggunaan kata tahta sudah benar? Apakah ada bentuk kata lain yang digunakan masyarakat pengguna bahasa? Kata tahta ternyata bersaing dengan kata takhta . Hasil pengecekan penulis dalam mesin pencari kata daring, ditemukan kata tahta dan takhta. Berikut kutipannya. (1) Upacara Naik Tahta Kaisar Naruhito Dilaksanakan Pagi Ini (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190501080200-113-391032/upacara-naik-tahta-kaisar-naruhito-dilaksanakan-pagi-ini) (2) Kilas Balik Pergantian Tahta pada Masa Kerajaan di Indonesia (https://www.kompasiana.com/tomidwikinugraha7577/5c619ab6677ffb39292d44e3/kilas-balik-pergantian-tahta-pada-masa-kerajaan-di-indonesia) (3) Takhta (https://id.wikipedia.org/wiki/Takhta) Lalu bentuk kata mana yang dibakuka...

Agar Supaya

Dalam kegiatan berbahasa, terutama bahasa lisan, penggunaan kata agar supaya kerap kita dengar. Perhatikan contoh berikut. (1) “ Agar supaya giat belajar, siswa harus terus dimotivasi,” ujar salah satu peserta rapat. (2) Penanggulangan banjir harus segera dilaksanakan agar supaya kerugian bisa terkurangi. Apakah pengggunaan kata agar supaya di atas sudah memenuhi kaidah kalimat efektif dan sesuai dengan ragam bahasa Indonesia baku? Ikuti penjelasan berikut untuk menemukan jawabannya! Salah satu ciri kalimat efektif adalah adanya kehematan penggunaan kata, frasa, atau bentuk lain. Arifin dan Tasai (2006) menjelaskan, penghematan di sini dimaksudkan tidak menggunakan kata yang memang tidak diperlukan. Caranya adalah menghindari menggunakan kata yang bersinonim dalam satu kalimat. Di satu sisi, kata agar dan supaya dalam KBBI V sama-sama digolongkan ke dalam jenis kata penghubung. Makna kedua kata tersebut adalah kata penghubung untuk menandai harapan. Dengan kata lain dapat kita t...

Santri Yatim Membully Sederajat?

Reporter : Maulana Fajar A.S PTS adalah kepanjangan dari penilaian tengah semester dan PTS adalah waktu pembully-an itu terjadi tepatnya pada tanggal 23/09/2024 dan kelas menjadi tempat kejadian perkaranya. Semua ini berawal dari santri yatim yang mempunyai rasa dendam terhadap teman sendiri yang sama-sama yatim.aksi dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi berupa pencoretan nama baik sikorban,pelaku yang merasa puas pun merasa tidak bersalah sama sekali.dan tidak merasa akan ketahuan,pada kenyataan nya salah. Aksi yang dilakukan pelaku ketahuan,tepatnya oleh pengawas ruangan ujian.merasa ada yang jangkal dibagian pengabsenan,sang pengawas ruangan pun melihat terdapat sebuah nama yang dicoret besar.sang pengawas pun menarik napas panjang-panjang dan berkata “siapa yang melakukan ini?!,mencoret-coret nama orang lain?” Bersambung...